Monday, April 10, 2006

Inspiration

Look into the picture of ur present life, 4 the picture determines ur future

Wednesday, April 05, 2006

Melalui program Green School diharapkan peserta didik mempunyai kesadaran akan perlunya kepedulian terhadap lingkungan, misalnya efisiensi terhadap penggunaan sumber daya alam.
Sebenarnya pendidikan lingkungan memiliki dimensi ekonomi. Pendidikan lingkungan juga membangun kesadaran demokrasi, karena menuntut keterlibatan atau partisipasi banyak pihak, sehingga dapat menjadi bagian pendidikan politik.
Green School sering dianggap ada lahan utk taman dan lain-lain, tapi yang lebih penting adalah sekolah menjadi agen perubahan akan kesadaran tentang pendidikan lingkungan.
(taken from: Catatan Proses Seminar GGS ) link to http://www.cbe.or.id/comments.php?id=91_0_1_0_C

Sunday, April 02, 2006

Program Green School

Program sekolah hijau dikembangkan melalui lima kegiatan utama :

a. Pengembangan kurikulum berwawasan lingkungan

b. Peningkatan kualitas kawasan sekolah dan lingkungan sekitarnya

c. Pengembangan pendidikan berbasis komunitas

d. Pengembangan sistem pendukung yang ramah lingkungan

e. Pengembangan manajemen sekolah berwawasan lingkungan

Sunday, February 05, 2006

Inspiration

A Person Who Asks A Question Is A Fool For Five Minutes. A Person Who Doesn't Is A Fool Forever

Sekolah Hijau

Taman menciptakan suasana sekolah yang segar dan nyaman

Menghijaukan sekolah dengan penataan lansekap
Taman sekolah dengan desain yang artistik


Thursday, February 02, 2006

Inspiration

Intelligence is like a river. The deeper it is the less noise it makes

Green Schools

Energy costs are an enormous expense for our nation's schools. To help free up more resources for education while strengthening academic learning, the Alliance's Green Schools Program engages students in creating energy-saving activities in their schools, using hands-on, real-world projects. Through basic changes in the operations, maintenance, and individual behavior, Green Schools has achieved reductions in energy use of 5 to 15 percent among participating schools. In addition, Green Schools encourages students to apply the lessons of energy-efficiency message in their homes and communities.

Bersih sekolahku, nyaman belajarku

Menanamkan rasa cinta terhadap lingkungan tidak akan berhasil kalau tidak dimulai sejak usia dini. Usaha penjaga sekolah kami (dulu disebut Pak Bon, dari kebon) barangkali dapat dijadikan contoh.

Sekolah kami sebenarnya kurang begitu ideal sebagai tempat belajar. Luas tanahnya hanya kurang lebih 500 m2. Jadi gedung sekolahnya juga kecil mungil. Kalau sekolah lain pada umumnya mempunyai enam ruang belajar, sekolah kami hanya mempunyai lima ruang kelas. Satu ruang untuk guru beristirahat atau menyiapkan materi pelajaran, dan dua kamar kecil untuk guru dan murid. Dengan tempat serba terbatas itu, anak-anak kelas 2 baru dapat mulai belajar sesudah anak kelas 1 pulang.

Untung penjaga sekolah kami mempunyai kreativitas menakjubkan, yang membuat kami tetap nyaman berada di lingkungan yang sempit itu. Ia seakan-akan dipaksa untuk mencari akal bagaimana mengolah sampah yang setiap hari dihasilkan para murid sambil menyuburkan beberapa pohon peneduh di halaman sekolah. Hasil kreasinya memang membantu meringankan tugasnya membersihkan halaman sekolah.

Langkah pertama ialah, membuat tempat sampah bagi tiap-tiap kelas. Tetapi berbeda dengan sekolah lain, yang hanya membuat tempat sampah dengan bentuk "yang itu-itu" saja, penjaga sekolah kami membuat tempat sampah yang sungguh nyeni (artistik) dan menarik. Para murid senang membuang sampah bekas bungkus makanan dari plastik atau daun pisang ke tempat yang nyeni itu.

Setiap kelas diberi dua buah tempat sampah. Keduanya terbuat dari papan. Tetapi yang membedakan keduanya ialah bentuk dan warna catnya.

Untuk membiasakan agar anak-anak suka membuang sampah yang dapat membusuk (seperti daun pisang pembungkus makanan), salah satu tempat sampah dibuat menyerupai bentuk daun yang dicat hijau. Dilihat dari jauh, tempat itu seakan-akan berupa helaian daun raksasa yang berdiri tegak. Pada sisi depannya diberi tulisan "Buanglah daunmu di sini".

Sedangkan tempat sampah yang kedua dibentuk menyerupai kemasan makanan dalam bungkus plastik. Itu dicat sedemikian rupa hingga mirip sekali dengan kemasan makanan yang sedang ngetren di kalangan anak-anak muda waktu itu. Pada sisi depannya diberi tulisan "Bungkus plastikmu, berikan padaku".

Agar tidak mengurangi tempat bermain para murid, penjaga sekolah kami sengaja tidak menggali lubang di halaman sebagai tempat penimbunan sampah akhir dari tiap-tiap kelas. Dia menaruh dua buah tong bekas di pojok bangunan sekolah. Satu untuk menimbun sampah dedaunan, dan satu lagi untuk menimbun sampah plastik dan kertas.

Khusus di atas sampah dedaunan itu ia menabur campuran tanah dan kapur secara berkala agar sampah daun itu menjadi kompos. Setelah beberapa waktu, kompos yang sudah jadi dipakai untuk memupuk pohon pelindung di halaman sekolah.

Sedangkan sampah berupa plastik dan kertas dibakar habis, setiap tiga hari.

Usaha penjaga sekolah ini betul-betul kami rasakan sebagai upaya menanamkan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan di kalangan anak-anak sejak usia dini.

Hasil yang kami rasakan ialah kebersihan dan kesejukan lingkungan yang nyaman, walaupun halaman sekolah kami begitu sempit. Tidak mengherankan, bahwa murid-murid kelas 6 selalu mengucapkan semboyan "Bersih sekolahku, nyaman belajarku!" ketika mereka meninggalkan sekolah pada tiap akhir tahun ajaran. (Y. Sariyono)

Monday, January 23, 2006

Inspiration

To let go doesn't mean to stop caring.
To let go is to learn theres something beyond.
To let go means accepting reality.
To let go is loving more coz u only want the best.


Diambil dari http://www.txt2nite.com/wiselife.html